30 November 2025 - 19:12
Analis Suriah kepada ABNA: Serangan ke “Beit Jinn” adalah bagian dari strategi ekspansi Israel

Seorang analis Suriah mengatakan bahwa serangan dan infiltrasi darat pasukan Israel ke Beit Jinn bukanlah “operasi terbatas semata”, melainkan membawa pesan langsung untuk memaksa pemerintah agar menjalankan tuntutan yang diajukan dalam kerangka konfrontasi terhadap Poros Perlawanan.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Pada Jumat dini hari, desa Beit Jinn di pedesaan Damaskus menyaksikan salah satu serangan Israel paling hebat dalam beberapa bulan terakhir. Serangan ini dimulai dengan infiltrasi darat satu unit khusus Israel ke dalam desa, lalu berlanjut dengan tembakan artileri dan serangan roket, yang menyebabkan lebih dari sepuluh orang syahid dan sejumlah warga sipil lainnya terluka.

Sementara pasukan pendudukan menghalangi masuknya tim penyelamat ke lokasi, media Zionis melaporkan bahwa 13 tentara Israel terluka dalam bentrokan dengan warga, dengan kondisi tiga di antaranya dilaporkan kritis.

Ketegangan ini, yang juga disertai dengan penerbangan intensif pesawat nirawak di atas wilayah tersebut, terjadi di saat eskalasi ketegangan regional dari Gaza hingga Lebanon dan Suriah terus meningkat. Gerakan Hamas menilai serangan ini sebagai bagian dari upaya Israel untuk memperluas lingkar agresinya di kawasan.

Menyusul eskalasi perkembangan lapangan dan dampaknya terhadap Poros Perlawanan serta situasi di selatan Suriah, ABNA mewawancarai Dr. Mahmoud Mawlidi, koordinator umum Hizb al-Tahrir al-Wathani Suriah, terkait dimensi agresi serta pesan politik dan militernya.

Ia menegaskan bahwa serangan dan infiltrasi darat Israel di Beit Jinn bukan sekadar operasi terbatas dengan dalih “penangkapan”, melainkan bagian dari strategi terorganisir untuk memperluas pengaruh rezim itu di wilayah Suriah dan menggagalkan setiap proyek pembebasan dan perlawanan di masa depan.

Mawlidi menambahkan bahwa kedalaman dan karakter agresi ini membawa pesan jelas untuk menekan pemerintah agar tunduk pada tuntutan Israel, termasuk komitmen sebelumnya terkait konfrontasi terhadap Poros Perlawanan—bahkan di luar perbatasan.

Ia menjelaskan bahwa proposal Rusia–Turki menawarkan jalur tertentu untuk penyelesaian, namun Amerika Serikat dan Israel melalui tekanan langsung berusaha memaksa pemerintah agar menjalankan perintah yang mereka inginkan, sehingga kekuasaan tetap berada dalam kerangka kehendak Washington.

Mawlidi juga mengatakan bahwa keberhasilan perlawanan rakyat setempat dalam menggagalkan operasi tersebut terjadi berkat kecepatan reaksi warga dalam mendeteksi bahaya infiltrasi, mengenali targetnya, serta adanya koordinasi penuh dalam pergerakan lapangan.

Menurutnya, peristiwa ini “menunjukkan bahwa rakyat Suriah telah memilih jalan perlawanan dan tidak akan tunduk pada penyerahan diri”, seraya menegaskan bahwa apa yang terjadi “bisa menjadi percikan sebuah perubahan besar”.

Menanggapi pertanyaan apakah Israel akan menghindari operasi serupa di masa depan, ia menyatakan bahwa kesombongan Zionis bisa saja mendorong pengulangan serangan semacam ini, tetapi kali ini dengan perhitungan yang lebih kompleks dan jaminan keamanan lebih besar bagi pasukannya.

Terkait pengepungan wilayah pasca-penarikan diri pasukan Israel dan terus berlanjutnya penerbangan drone, ia menjelaskan bahwa Israel memahami betul makna perlawanan rakyat yang tumbuh dari dalam bumi tanpa bergantung pada teknologi canggih, dan karena itu mereka takut terhadap meluasnya gerakan pembebasan di area geografis yang lebih luas.

Dalam analisisnya atas peristiwa ini dalam konteks ketegangan kawasan, Mawlidi menegaskan bahwa serangan ini adalah pendahuluan bagi proses eskalasi yang sedang dipersiapkan Israel, yang bisa menargetkan kedalaman strategis Poros Perlawanan.

Ia menambahkan bahwa arah ini “tampak jelas dalam pernyataan berulang para pejabat musuh Zionis—pernyataan yang sama sekali tidak berusaha menyembunyikan niat mereka untuk memperluas lingkaran konflik.”

Your Comment

You are replying to: .
captcha